Ketika Anak Remaja Anda Menganggap AI Sebagai "Teman": Hal yang Perlu Diperhatikan Orang Tua
Oleh: Prof. Pilyoung Kim, Grant Kuppenheimer, dan Yun Xie
19 Agustus 2026
Anak remaja saya baru saja menyebut AI sebagai temannya, apa yang sebaiknya saya lakukan?
Para orang tua, bayangkan Anda tidak sengaja mendengar anak remaja Anda berkata: "Aku baru saja cerita ke teman AI-ku tentang kejadian di sekolah tadi."
Bagaimana reaksi Anda? Apakah Anda akan ragu dan berpikir apakah perlu menegurnya? Ataukah naluri pertama Anda justru langsung membatasi penggunaan AI mereka?
Mendengar anak menyebut AI sebagai "teman" memang bisa menimbulkan rasa cemas. Namun, penelitian menunjukkan bahwa label sebutan itu sendiri belum tentu menjadi pertanda buruk. Daripada hanya terpaku pada apakah anak menganggap AI sebagai teman, jauh lebih penting untuk memperhatikan peran relasi AI tersebut dalam hidup mereka: apa tujuan mereka berinteraksi dengannya, apa yang mereka dapatkan dari sana, dan apakah AI tersebut mendukung atau justru mulai menggantikan hubungan sosial penting lainnya di dunia nyata.
Kapan relasi dengan AI mulai masuk kategori mengkhawatirkan?
1. Sudut Pandang Orang Tua dan Pakar
Dalam studi oleh Yu et al. (2026), peneliti mewawancarai 13 orang tua dan 13 pakar perkembangan anak untuk mengevaluasi cuplikan percakapan antara remaja dan karakter AI. Mereka menemukan bahwa orang tua dan pakar memiliki cara pandang yang berbeda dalam menilai batasan risiko interaksi AI:
- Orang tua cenderung menilai berdasarkan insiden atau peristiwa tertentu (event-based approach), yaitu mengukur risiko dari ada atau tidaknya interaksi tunggal yang dirasa janggal atau mengkhawatirkan.
- Pakar perkembangan anak cenderung melihat dari pola penggunaan (pattern-based approach), yaitu memperhatikan seberapa sering interaksi bermasalah tersebut terjadi dan berapa lama pola tersebut telah berlangsung.
Kekhawatiran yang muncul dari kedua pihak pun berbeda:
- Orang tua lebih khawatir percakapan AI dengan anak remaja dapat bertentangan dengan nilai-nilai keluarga atau standar moral.
- Pakar lebih mencemaskan bahwa interaksi dengan AI minim akan isyarat nonverbal dan sosial yang biasa ada dalam komunikasi antarmanusia, yang berpotensi menghambat perkembangan keterampilan sosial anak di dunia nyata.
Poin Penting: Alih-alih hanya bertanya, "Apakah AI melakukan sesuatu yang buruk dengan anak saya?", orang tua sebaiknya juga bertanya, "Seberapa sering ini terjadi, dan sudah berapa lama pola interaksi ini berlangsung?" Melihat pola dari waktu ke waktu memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai apakah interaksi tersebut berisiko atau tidak.
2. Suara Langsung dari Para Remaja
Untuk memahami perspektif para remaja itu sendiri, Namvarpour dkk. (2026) menganalisis 318 unggahan yang ditulis oleh remaja di forum subreddit Character.AI.
Hasilnya menunjukkan bahwa remaja sering kali beralih ke Character.AI untuk mencari dukungan emosional dan sosial yang bebas dari penghakiman (nonjudgmental), serta untuk hiburan kreatif. Namun di sisi lain, sebagian remaja juga menyuarakan kekhawatiran atas penggunaan AI mereka sendiri. Mereka menceritakan pengalaman yang berkaitan dengan konflik emosional, gejala putus interaksi (withdrawal), peningkatan toleransi durasi, hingga kesulitan untuk berhenti (relapse).
Beberapa unggahan juga menggambarkan dampak negatif akibat penggunaan berlebihan, seperti:
- Kurang tidur
- Penurunan prestasi sekolah
- Terganggunya hubungan di dunia nyata
Temuan ini memberikan indikator praktis yang dapat dicermati orang tua. Daripada mempermasalahkan sebutan "teman", perhatikan tanda-tanda berikut:
- Apakah AI mulai menggantikan rutinitas penting dalam keseharian? (misalnya waktu bersama teman & keluarga, waktu tidur, tugas sekolah, atau hobi lainnya)
- Apakah anak merasa sangat kesulitan atau gelisah ketika harus mengurangi atau menghentikan penggunaan AI?
- Setelah mencoba mengurangi atau berhenti, apakah anak kembali berulang kali ke pola penggunaan yang berlebihan tersebut?
Beberapa Rekomendasi Praktis untuk Orang Tua
- Kedepankan rasa ingin tahu sebelum mengoreksi (Be curious before being corrective)
Sebelum buru-buru menegaskan bahwa AI bukanlah "teman", tanyakan terlebih dahulu apa yang mereka sukai saat mengobrol dengannya dan apa manfaat yang mereka rasakan dari interaksi tersebut. - Tanyakan dan amati peran apa yang dimainkan AI bagi anak
Apakah murni untuk bersenang-senang? Apakah sebagai tempat pelarian saat merasa stres atau butuh curhat? Ataukah mereka mengandalkannya untuk mencari saran atau penenang rasa cemas? - Bantu anak memahami perbedaan antara responsivitas (responsiveness) dan timbal balik (reciprocity)
AI memang bisa merespons dengan cara yang terkesan sangat perhatian, peduli, dan personal. Namun, hal itu sangat berbeda dengan rasa saling peduli, tanggung jawab, dan dinamika memberi-dan-menerima (give-and-take) yang menjadi fondasi hubungan antarmanusia sejati. - Waspadai tanda-tanda pergeseran peran atau disrupsi
Perhatikan baik-baik apakah penggunaan AI sudah mulai menggeser waktu tidur, kegiatan sekolah, hobi, kumpul keluarga, atau pertemanan dengan orang-orang di sekitarnya.
Secara keseluruhan, orang tua tidak perlu langsung panik ketika mendengar anak menyebut AI sebagai "temannya". Jadikan momen ini sebagai kesempatan untuk memahami secara terbuka peran apa yang sebenarnya dimainkan oleh AI dalam kehidupan anak.
Label atau sebutan "teman" itu sendiri tidak sepenting dampak nyata dari interaksi tersebut: apakah relasi dengan AI tersebut mendukung perkembangan anak, atau justru mulai mengganggu dan menggantikan hubungan serta aktivitas penting bagi tumbuh kembang mereka.
Sumber Referensi:
- Namvarpour, M., Brofsky, B., Medina, J. Y., Akter, M., & Razi, A. (2026, April). Understanding teen overreliance on AI companion chatbots through self-reported Reddit narratives. In Proceedings of the 2026 CHI Conference on Human Factors in Computing Systems (pp. 1-19).
- Yu, Y., Mohi, F., Debroy, A., Cao, X., Rudolph, K., & Wang, Y. (2026, April). Principles of Safe AI Companions for Youth: Parent and Expert Perspectives. In Proceedings of the 2026 CHI Conference on Human Factors in Computing Systems (pp. 1-21).
Penulis: Yun Xie